Tampilkan postingan dengan label Pariwisata Situs Bersejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pariwisata Situs Bersejarah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 29 November 2011

Tugu Proklamasi



Rengasdengklok , awal proses proklamsi RI. Sejarah perjuangan Indonesia menuju kemerdekaan mengalami banyak kenangan. Dari perang gerilya hingga perumusan dan pembacaan naskah proklamasi, semuanya meninggalkan saksi-saksi bisu yang sampai sekarang masih bisa dinikmati.

Perumusan Naskah Proklamasi
       Menengok sejarah perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia, ada beberapa peristiwa penting yang menasional dan terjadi di beberapa bagian kota di Indonesia. Jalur napak tilas kali ini melangkah mundur, ke 61 tahun yang lalu.
       Saat itu, 16 Agustus 1945, pukul 04.30 WIB. Sebuah peristiwa terjadi di rumah kepala Negara RI. Orang nomor satu di Indonesia beserta wakilnya, telah diculik oleh sekelompok pemuda Panitia    Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) yang dibentuk Jepang beberapa waktu sebelumnya. Soekarno kemudian dibawa ke sebuah rumah di daerah Rengasdengklok. Di sana terjadi proses kompromi tentang rencana pernyataan kemerdekaan. Banyak di antara para pemuda yang tidak menyetujui hal itu, mengingat PPKI adalah sebuah lembaga yang didirikan oleh Jepang. Dari proses perundingan di Rengasdengklok, akhirnya diperoleh sebuah kesepakatan penting. Presiden Soekarno dan wakilnya, Muhammad Hatta kemudian diboyong ke Jakarta.
         Pada pukul 22.00 WIB rombongan ini tiba di rumah Laksamana Muda Tadashi Maeda di Jl Imam Bonjol, Jakarta Pusat. Di tempat inilah naskah proklamasi dirumuskan oleh Ir. Soekarno, Drs. Moh. Hatta, dan Mr. Ahmad Soebardjo, lalu diketik oleh Sayuti Melik. Naskah Proklamasi Kemerdekaan RI ini ditandatangani Soekarno-Hatta atas nama bangsa Indonesia, pada saat menjelang waktu Shubuh, tanggal 17 Agustus 1945. Tempat peristiwa bersejarah ini sampai sekarang masih berada pada lokasi yang sama. Bentuk bangunannya pun tetap sama seperti bentuk ketika pertama kali didirikan sekitar tahun 1920 dengan rancang bangun arsitektur bergaya Eropa.
       Beberapa isi ruangan dipertahankan dalam keadaan yang sama dengan kondisinya waktu dulu. Hampir sama persis seperti ketika proses perumusan naskah proklamasi disusun di sana, 61 tahun yang lalu. Kursi dan meja yang sama, serta ruangan-ruangan dengan jendela dan pintu dalam kondisi yang tak diubah bentuk. Ada beberapa dokumen penting yang diletakkan di dalam lemari kaca, misalnya pemutar piringan hitam kuno, kaset VHS yang berisi rekaman acara pembacaan naskah proklamasi kemerdekaan RI tahun 1945, dua lembar pecahan uang kuno, replika naskah proklamasi tulisan tangan, dan berbagai catatan sejarah proklamasi kemerdekaan RI di berbagai kota.
Pemindahan status kepemilikan gedung ini terjadi pada aksi nasionalisasi terhadap milik-milik bangsa asing di Indonesia. Gedung ini juga pernah digunakan sebagai kantor Perpustakaan Nasional. Pada tahun 1992, atas inisiatif Menteri Pendidikan dan Kebudayaan saat itu, Prof Dr. Nugroho Notosusanto melalui SK Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No.0476/1992 tanggal 24 November 1992, gedung ini ditetapkan menjadi Museum Perumusan Naskah Proklamasi hingga sekarang.
       Museum ini dibuka untuk umum setiap harinya, kecuali hari Senin dan Hari Besar.
Ø  Hari Selasa s/d Minggu, museum dibuka sejak pukul 08.30 s/d 14.30 WIB dengan harga karcis masuk yang sangat murah.
Ø  Hanya dengan biaya masuk Rp750,- untuk dewasa perorangan, dan Rp250,- untuk anak-anak. Bahkan untuk pengunjung rombongan, harga tiket masuknya lebih murah. Hanya berkisar Rp100,- s/d Rp250,- per orang.
          Gedung museum dan isinya yang terawat baik, kini banyak memberikan nilai-nilai edukatif, khususnya tentang sejarah Proklamasi Kemerdekaan RI. Pengunjung yang datang, umumnya adalah para murid, pelajar, siswa, para mahasiswa serta turis-turis mancanegara. Museum Perumusan Naskah Proklamasi juga sering menerima tamu dari Kedutaan Jepang.
       Menurut Yuwono, salah satu pegawai Tata Usaha di Museum Perumusan Naskah Proklamasi Kemerdekaan RI, pihaknya bahkan sering menerima tamu dalam jumlah yang banyak. Satu rombongan bisa mencapai 500 orang. Selain menerima kunjungan para tamu, di tempat ini juga sering dilakukan diskusi-diskusi yang berkaitan dengan sejarah Proklamasi Kemerdekaan RI. Bahkan pihak pengelolanya sekarang Direktorat Jenderal Sejarah dan Purbakala di bawah naungan Departemen Kebudayaan dan Pariwisata telah membuat program acara yang diadakan setiap tahun, dalam rangka memperingati Hari Kemerdekaan RI.
      

Selasa, 15 November 2011

Monumen Rawa Gede

Monumen Rawa Gede didirikan untuk mengenang tewasnya 200 orang warga sipil yang teguh mempertahankan tempat persembunyian Pejuang Kemerdekaan, demi mempertahankan Kemerdekaan Republik Indonesia. Dalam diorama ini digambarkan kebiadaban dan kekejaman Tentara Belanda yang sedang membantai rakyat yang tak berdosa, termasuk diantaranya anak-anak dan perempuan. Di lingkungan Monumen Rawa Gede ini terdapat 200 makam rakyat yang rela mati demi mempertahankan kemerdekaan.
Monumen Rawagede lokasinya terletak di pinggir sebelah utara jalan, Dusun Rawagede, Desa Rawagede, Kecamatan Rawamerta. Komplek monumen berpagar tembok. Lingkungan di sekitar monumen berupa perkampungan dan persawahan. Bangunan monumen yang dibangun mulai November 1995 dan diresmikan pada 12 Juli 1996 ini terdiri dua lantai. Pada ruang lantai bawah terdapat diorama peristiwa pembantaian warga oleh tentara Belanda. Dinding luar bagian bawah dihias relief yang menggambarkan peristiwa perjuangan rakyat Karawang. Makam pahlawan di bagian belakang diberi nama Sampurna Raga. Di samping timur jalan masuk makam pahlawan terdapat data korban peristiwa tindakan militer Belanda di Rawagede. Jumlah korban tersebut terdiri peristiwa 9 Desember 1947 sebnyak 431 orang, kurun waktu antara Januari sampai Oktober 1948 sebanyak 43 orang, dan korban pada kurun waktu Juli sampai November 1950 sebanyak 17 orang. Dari sekian korban tersebut yang dimakamkan di taman makam pahlawan Sampurna Raga sebanyak 181 orang. Peristiwa tragis Rawagede terjadi pada 9 Desember 1947 dimulai sekitar pukul 4 subuh. Ketika itu di saat hujan turun dengan lebatnya, militer Belanda melakukan penggeledahan ke rumah-rumah penduduk. Setiap yang ditemuakn terutama laki-laki dikumpulkan di tanah lapang. Mereka ditanya tentang keberadaan para pejuang yang menyembunyikan Bapak Kapten Lukas Kustaryo selaku Danki Resimen VI Jakarta. Semua warga tidak ada yang menjawab sehingga terjadi pembantaian oleh militer Belanda. Monumen ini sekarang dikelola oleh Yayasan Rawagede di bawah pimpinan Bapak K. Sukarman HD. (Sumber : Bidang Kebudayaan, Disparbud Jabar)
Cerita RAwagede
Pemerhati sejarah, sekaligus Ketua Yayasan Rawagede, Sukarman mengatakan, Lukas adalah pejuang kemerdekaan yang luar biasa. “Dia kerap menembak tentara Belanda, melolosi bajunya dan memakainya. Dia lalu menembaki Belanda,” kata dia kepada VIVAnews.com, Kamis 15 September 2011.

Lukas juga dikenal piawai melaksanakan tugasnya, merebut senjata Belanda. Membajak kereta berisi senjata dan ribuan amunisi.
Suatu hari, usai menghantam Belanda di Subang, Pamanukan, sampai Cikampek, Lukas meloloskan diri dengan cara berjalan kaki. “Dia sampai di Rawagede pukul 07.00, Senin 8 Desember 1947, sehari sebelum kejadian,” cerita Sukarman.Ia lalu mengumpulkan tentara Barisan Keamanan Rakyat (BKR) di Rawagede — merencanakan penyerangan ke Cililitan. “Sekitar jam 09.00, ada mata-mata Belanda yang tahu Lukas bergabung di Rawagede,” kata pria asli Rawagede itu.Mata-mata itu melapor ke tangsi di Karawang, di belakang alun-alun. Pihak Kawarang yang merasa tak mampu akhirnya melapor ke Jakarta. “Sorenya pukul 16.00 keluar komando, Rawagede harus dibumihanguskan,” kata Sukarman.Dia menjelaskan, selain faktor Lukas, Rawagede memang sudah lama jadi incaran Belanda. Sebab, wilayah ini adalah markas gabungan laskar pejuang. Ada lima laskar yakni Macan Citarung, Barisan Banteng, SP 88, MPHS, dan HizbullahPosisi desa itu strategis, dilewati jalur rel kereta api, ada stasiun. Juga kemudahan logistik, di mana penduduk yang mampu bersedia menyumbangkan beras, bahan makanan untuk para pejuang, tanpa diminta.Sehari sebelum tragedi meletus, pukul 15.00, Lukas dan pasukannya ke luar dari Rawagede. Berjalan kaki ke arah Sukatani. “Ia tidak tahu peristiwa Rawagede,” kata Sukarman. Tidak mengetahui pasukan Belanda membantai warga, menjebol dan membakar rumah-rumah di desa itu. Membuat sungai menjadi merah dialiri darah.Salah satu penyebab pembantaian adalah, tak ada satu pun warga yang menjawab pertanyaan serdadu Belanda: di mana Lukas, di mana para pejuang. Mereka memilih bungkam, meski mengetahui.



Sabtu, 29 Oktober 2011

Candi Jiwa di Karawang Jadi Lokasi Wisata Purbakala


Candi Jiwa terletak sekitar 20 km di sebelah barat laut kota Rengasdengklok, Kabupaten karawang di sebuah Desa kecil di tepi sungai Citarum yaitu Desa Segaran. Candi Jiwa ditemukan pada tahun 1984 oleh tim arkeologi dari Fakultas Sastra Universitas Indonesia yang sekarang di kenal dengan nama Fakultas Ilmu Budaya UI. Awal penelitian candi Jiwa di mulai pada tahun 1985-1999 dan di temukan tidak kurang 13 situs di desa Segaran dan 11 situs di Tegaljaya.
Lokasi Candi Jiwa dikelilingi area persawahan yang sangat luas sehingga memberikan keunikan tersendiri, dan tidak jauh dari Candi Jiwa terdapat candi lain yaitu Candi Blandongan.
Sayangnya kurangnya pengembangan dari pemerintah sekitar maka untuk menuju ke Candi Jiwa masih sulit, namun jika kamu berwisata ke Candi Jiwa di jamin tidak menyesal dikarenakan panorama alam persawahan yang bercampur dengan eksotisnya peninggalan sejarah yang memperkaya akan kebudayaan yang dimiliki Indonesia.