Karawang sebuah kota kabupaten yang cukup terkenal dengan sebutan “ Lubung Padi “. Tak hanya itu karawang juga memiliki kekayaan dan eksotika alam yang sangat belimpah ruah. Banyak dari alam Karawang yang bias dijadikan objek wisata, diantaranya:
ØWisata Pantai
ØWisata Curug
ØWisata Bendungan dan Situ
ØWisata Sirus Bersejarah
ØWisata Religi
ØWisata Kuliner
Tidak hanya objek wisata untuk rekreasi saja, tetapi ada objek wisata yang bisa dijadikan tempat untuk belajar mengenal sejarah yang ada di karawang itu sendiri.
Jika anda penggemar makanan – makanan enak dan murah, di sini juga tersedia,tinggal pilih sesuai selera. Bisa juga dijadikan oleh – oleh atau cemilan ketika di perjalanan atau di tempat istrahat ketika anda mengunjungi salah satu Objek yang ada di sini.
Rengasdengklok , awal proses proklamsi RI. Sejarah perjuangan Indonesia menuju kemerdekaan mengalami banyak kenangan. Dari perang gerilya hingga perumusan dan pembacaan naskah proklamasi, semuanya meninggalkan saksi-saksi bisu yang sampai sekarang masih bisa dinikmati.
Perumusan Naskah Proklamasi Menengok sejarah perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia, ada beberapa peristiwa penting yang menasional dan terjadi di beberapa bagian kota di Indonesia. Jalur napak tilas kali ini melangkah mundur, ke 61 tahun yang lalu.
Saat itu, 16 Agustus 1945, pukul 04.30 WIB. Sebuah peristiwa terjadi di rumah kepala Negara RI. Orang nomor satu di Indonesia beserta wakilnya, telah diculik oleh sekelompok pemuda PanitiaPersiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) yang dibentuk Jepang beberapa waktu sebelumnya. Soekarno kemudian dibawa ke sebuah rumah di daerah Rengasdengklok. Di sana terjadi proses kompromi tentang rencana pernyataan kemerdekaan. Banyak di antara para pemuda yang tidak menyetujui hal itu, mengingat PPKI adalah sebuah lembaga yang didirikan oleh Jepang. Dari proses perundingan di Rengasdengklok, akhirnya diperoleh sebuah kesepakatan penting. Presiden Soekarno dan wakilnya, Muhammad Hatta kemudian diboyong ke Jakarta.
Pada pukul 22.00 WIB rombongan ini tiba di rumah Laksamana Muda Tadashi Maeda di Jl Imam Bonjol, Jakarta Pusat. Di tempat inilah naskah proklamasi dirumuskan oleh Ir. Soekarno, Drs. Moh. Hatta, dan Mr. Ahmad Soebardjo, lalu diketik oleh Sayuti Melik. Naskah Proklamasi Kemerdekaan RI ini ditandatangani Soekarno-Hatta atas nama bangsa Indonesia, pada saat menjelang waktu Shubuh, tanggal 17 Agustus 1945. Tempat peristiwa bersejarah ini sampai sekarang masih berada pada lokasi yang sama. Bentuk bangunannya pun tetap sama seperti bentuk ketika pertama kali didirikan sekitar tahun 1920 dengan rancang bangun arsitektur bergaya Eropa. Beberapa isi ruangan dipertahankan dalam keadaan yang sama dengan kondisinya waktu dulu. Hampir sama persis seperti ketika proses perumusan naskah proklamasi disusun di sana, 61 tahun yang lalu. Kursi dan meja yang sama, serta ruangan-ruangan dengan jendela dan pintu dalam kondisi yang tak diubah bentuk. Ada beberapa dokumen penting yang diletakkan di dalam lemari kaca, misalnya pemutar piringan hitam kuno, kaset VHS yang berisi rekaman acara pembacaan naskah proklamasi kemerdekaan RI tahun 1945, dua lembar pecahan uang kuno, replika naskah proklamasi tulisan tangan, dan berbagai catatan sejarah proklamasi kemerdekaan RI di berbagai kota. Pemindahan status kepemilikan gedung ini terjadi pada aksi nasionalisasi terhadap milik-milik bangsa asing di Indonesia. Gedung ini juga pernah digunakan sebagai kantor Perpustakaan Nasional. Pada tahun 1992, atas inisiatif Menteri Pendidikan dan Kebudayaan saat itu, Prof Dr. Nugroho Notosusanto melalui SK Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No.0476/1992 tanggal 24 November 1992, gedung ini ditetapkan menjadi Museum Perumusan Naskah Proklamasi hingga sekarang. Museum ini dibuka untuk umum setiap harinya, kecuali hari Senin dan Hari Besar.
ØHari Selasa s/d Minggu, museum dibuka sejak pukul 08.30 s/d 14.30 WIB dengan harga karcis masuk yang sangat murah.
ØHanya dengan biaya masuk Rp750,- untuk dewasa perorangan, dan Rp250,- untuk anak-anak. Bahkan untuk pengunjung rombongan, harga tiket masuknya lebih murah. Hanya berkisar Rp100,- s/d Rp250,- per orang.
Gedung museum dan isinya yang terawat baik, kini banyak memberikan nilai-nilai edukatif, khususnya tentang sejarah Proklamasi Kemerdekaan RI. Pengunjung yang datang, umumnya adalah para murid, pelajar, siswa, para mahasiswa serta turis-turis mancanegara. Museum Perumusan Naskah Proklamasi juga sering menerima tamu dari Kedutaan Jepang. Menurut Yuwono, salah satu pegawai Tata Usaha di Museum Perumusan Naskah Proklamasi Kemerdekaan RI, pihaknya bahkan sering menerima tamu dalam jumlah yang banyak. Satu rombongan bisa mencapai 500 orang. Selain menerima kunjungan para tamu, di tempat ini juga sering dilakukan diskusi-diskusi yang berkaitan dengan sejarah Proklamasi Kemerdekaan RI. Bahkan pihak pengelolanya sekarang Direktorat Jenderal Sejarah dan Purbakala di bawah naungan Departemen Kebudayaan dan Pariwisata telah membuat program acara yang diadakan setiap tahun, dalam rangka memperingati Hari Kemerdekaan RI.
Pantai Tanjung Baru berada di ujung Utara sebelah Timur, pantai ini hampir tidak jauh berbeda dengan pantai lainnya yang ada di Kabupaten Karawang, Pantai Tanjung Baru terletak pada teluk di semenanjung antara Kabupaten Subang dan Kabupaten Karawang.
Di pantai ini telah tersedia Warung Makan Tradisional dengan Menu Ikan Bakar terhampar disepanjang pantai ini, tersedia pula Panggung Hiburan, Pasar Tradisional dan Penginapan dengan fasilitas sederhana, tersedia pula penyewaan perahu tradisional dan sarana bilas air bersih setelah puas berenang di laut.
Lokasi : Kecamatan Cilamaya, Kabupaten Karawang
Danau atau Situ Kamojing adalah daerah resapan air, berada Kawasan Hutan Konservasi yang sering dijadikan Lokasi Shooting Film atau Sinetron. Disekitar Situ Kamojing telah berdiri Restoran dengan Gaya Klasik Modern juga tersedia ajang Rekreasi bagi Anak - anak dan Dewasa, di Lingkungan ini pula telah dibangun Hotel dengan Fasilitas Bintang Tiga. Lokasi Situ Kamojing terletak di Desa Dawuan Kecamatan Cikampek 22 km dari Ibu Kota Kabupaten Karawang.
Makanan ringan yang pada awalnya menjadi ikon kota kembang Bandung ini memang sedang digandrungi oleh pasaran para penikmat keripik. Tidak hanya penduduk lokal yang berbondong-bondong mencari Ma icih, namun para pengunjung luar kota pun penasaran dengan produk yang memakai ikon nama seorang nenek ini.
Ternyata dibalik kesuksesan Ma icih ini adalah Reza, pria muda berusia 23 tahun yang berasal dari kota kembang Bandung, dan bukanlah seorang nenek tua yang bernama Ma icih.
Harga keripik pedas Ma icih kini di bandrol dengan harga Rp 11 ribu yang pada awalnya seharga Rp 10 ribu untuk wilayah kota bandung, dan untuk Jakarta seharga Rp 19 ribu.
Es Cendol…. itulah nama populernya. Jajanan Pasar yang satu ini warnanya hijau khas, dibuat dari tepung beras, atau ada juga yang menggunakan sagu aren lalu diberi perwarna hijau. Pewarna yang digunakan dari bahan alami seperti daun suji dan pandan sehingga harum baunya. Bentuknya panjang dan bulat ramping. Dipadu dengan santan dan gula aren. Rasa manis dan dingin memberikan sensasi yang tak terlukiskan kenikmatannnya. Apalagi ditambah potongan buah nangka turut menemani dalam segelas es cendol hijau ini. Cocok untuk pencuci mulut atau hidangan pesta.
Combro 'Setan'-Panatayuda,
di Karawang,
yang jualan Gorengan (Combro,Tahu Goreng,Tempe Goreng dll).
makanannya Halal.
Katanya sih, ...Kalo kamu ke Karawang, cobain yang namanya Comro 'Setan'... tempatnya di sekitar GOR Panatayuda-deket Mega M. Buat yg belom tau cobro..itu salah satu makanan khas sunda,yg dibikin dr singkong diisi oncom, trus digoreng.Tapi,klo kamu ga suka pedes, jgn coba2 makan yah! Soalnya emang Comro "Setan" ini terkenal krn pedesss buangetttt!!!!! Hehehe Harganya murah sih..cuma Rp 400,- per buah!
Kiosnya cuma buka dari jam 14.00 sampe sore, jd kalo mau beli harus agak siangan...soalnya cepet abis!
Penasaran? Cobain aja...dijamin halal kok! :
Salah satu penganan khas Rengasdengklok yang tidak boleh terlupa saat berkunjung ke kota bersejarah ini adalah serabi hijau. Mungkin kalau anda jarang bertandang ke Karawang, kita akan jarang mendengar kesohoran serabi ini. Namun, area yang berbatasan dengan Karawang seperti Bekasi, Subang dan Purwakarta cukup mengenal serabi hijau milik M. Kasim. Sorabi ini tidak memiliki cabang, hanya ada satu-satunya di Rengasdengklok, Sekalipun ada, mungkin perbedaan citarasa lah yang membedakan Serabi Hijau Khas Rengas Dengklok Karawang ini,dan Serabi Hijau Khas Rengas Dengklok ini menjadi suatu pilihan jajanan maupun oleh-oleh bagi para wisatawan. Selain makanan ini merupakan makanan nusantara, bahan baku nya pun terdiri dari berbagai rempah-rempah yang pastinya tidak terdapat sedikitpun bahan kimia. Pembuatannya pun masih menggunakan alat tradisional.
Sorabi ini tersedia dalam dua rasa : original rasa gula jawa dan rasa durian. Untuk rasa durian rasa sorabinya sama aja, yang membedakan hanyalah saus bumbunya saja. Untuk sorabi original, harga jualnya Rp. 15.000 untuk 10 butir sorabi. Untuk sorabi durian, harganya Rp. 20.000, lebih mahal Rp. 5.000 untuk jumlah sorabi yang sama. Membeli serabi hijau ini dapat juga melalui Telepon (0267) 480776. Bapak M. Kasim dan dapat menerima pesanan.
SEJARAH SYECH QURO
PESANTREN PERTAMA DI JAWA BARAT
Syeh Quro bernama asli Syech Hasanuddin, putra ulama Perguruan Islam di Campa bernama Syech Yussuf Siddik yang masih garis keturunan Ulama Besar Mekkah Saudi Arabia. Bahkan menurut sumber lain garis keturunanannya sampai kepada Syaidina Husein bin Syaidina Ali ra, menantu Rosulullah SAW.
Menurut masyarakat Jawa, pesantren pertama di Jawa Barat adalah Pesantren Quro yang terletak di Tanjungpura Karawang Barat. Pesantren ini didirikan Syech Hasanuddin, seorang ulama dari Campa (Vietnam), pada tahun 1412 Saka atau 1491 Masehi. Karena pesantrennya bernama Quro, Syech Hasanuddin lebih dikenal dengan nama Syech Quro. Syech Hasanuddin beserta para pengiringnya turun di Karawang dan menetap di kota ini. Singgahnya Syeh Quro bersama para rombongannya dalam buku Rintisan Sejarah Masa Silam Jawa Barat terbitan 1983 disebut Pura Dalem. Artinya kota (pura) yang mempunyai kegiatan tugas pemerintah dibawah kewenangan jabatan Dalem. Rombongan Ulama tersebut menjungjung peraturan kota pelabuhan yang dikunjunginya. Sehingga aparat setempat menghormati dan memberikan izin untuk mendirikan mushola, pesantren dan tempat tinggal. Lokasi yang dipilih tidak jauh dengan pelabuhan Karawang yang sekarang disebut kota Tanjung Pura.
DITENTANG PENGUASA PADJADJARAN
Berdirinya pesantren menuai reaksi keras dari para resi. Pesatnya perkembangan ajaran Islam membuat para resi ketakutan agama mereka akan ditinggalkan. Kegiatan pesantren Quro yang lokasinya tidak jauh dengan Pelabuhan Karawang, rupanya kurang berkembang karena tidak mendapatkan dukungan dari Kerajaan Padjadjaran. Kemudian para santri yang sudah berpengalaman disebarkan kepedesaan terutama bagian selatan ke Pangkalan dan kebagian Utara ke Rawamerta, Cilamaya. Pengabdian Syech Quro dengan para santrinya dan para Ulama generasi penerusnya adalah "menyalakan pelita Islam", sehingga sinarnya memancarkan terus di bumi Karawang dan sekitarnya.
Syech Quro berhasil melewati semua tantangan tersebut dan terus mengembangkan agama Islam di Karawang sampai akhir hayatnya. Makam Syech Quro terletak di Dusun Pulobata Desa Pulokalapa Kecamatan Lemahabang Wadas Kabupaten Karawang. Lokasi makam penyebar agama Islam tertua, yang lebih dulu dibandingkan Wali Songo tersebut, berada sekitar 30 km ke wilayah timur laut dari pusat Kota Karawang.
Setiap malam Sabtu akhir bulan Syaban diperingati Haul Syech Quro. Setiap malam Sabtunya ribuan jemaah mengadakan zikir / tawasul akbar di makam Syech Quro di Dusun Pulobata Desa Pulokalapa Kecamatan Lemahabang Wadas Kabupaten Karawang. Namun demikian, kegiatan rutin tawasulan pun tetap dilaksanakan setiap malam Sabtu yang lebih dikenal dengan Malam Sabtu-an di Syech Quro Pulobata. Ribuan Jemaah tersebut selain berasal dari daerah sekitar juga berasal dari Subang, Bekasi, Purwakarta, Jakarta, Cirebon, Bandung, Bogor dan lain-lain.
Dikarenakan Raden Somaredja melakukan penelitian lebih lanjut tentang penemuan makam Syeh Quro tersebut, pada waktu itu bertepatan hari Jumat, malam Sabtu akhir bulan Rewah/Syaban tahun 1277 H /1859 M.